Pertandingan Ke-3 ISL 2010/2011 :: PERSIB BANDUNG 5 vs 1 PERSIBA BALIKPAPAN :: Pablo Frances (13), Aldo Barreto (31) Atep (45), Eka Ramdani (61), Rahmat Afandi (77) dan Jejen (83).

Jumat, 22 Oktober 2010

Eka Ramdani




PROFIL PEMAIN
Nama
Eka Ramdani
Lahir
18 Juni 1984
Purwakarta, Indonesia
Tinggi Badan
160 cm
Posisi
Gelandang Serang
Nomor Punggung
8
Klub Sebelumnya
Persijatim
Bergabung ke PERSIB
2005


TAK ada yang menyangkal, Eka Ramdani adalah roh permainan Persib Bandung. Meskipun bisa dianggap berlebihan, banyak orang berkata, berkembang atau tidaknya permainan Persib akan sangat tergantung kepada performa Eka di lini tengah. Jika Eka "on fire", Persib akan sulit dibendung. Sebaliknya, jika Eka "off-day", Persib pun bisa ikut-ikutan tampil buruk.

Bagi gelandang mungil kelahiran Purwakarta, 18 Juni 1984 tersebut, peran vital itu bukan merupakan hal baru. Sejak kembali ke Persib pada Liga Indonesia (LI) XI/2005, setelah dua musim sebelumnya berkelana ke Persijatim Solo FC (2003-2004), pelatih Indra M. Thohir sudah mencoba mempercayakan peran tersebut kepadanya. Namun karena usianya masih sangat belia (21 tahun), ketika itu Eka masih berbagi peran dengan seniornya, Yaris Riyadi, Suwita Pata, dan pemain asing asal Brasil, Uilian Souza Da Silva.

Pada saat Suwita Pata hengkang ke PSIS Semarang dan Uilian Souza tak dipertahankan pada LI XII/2006, Eka benar-benar menjadi pelakon tunggal di lini tengah Persib. Terlebih ketika performa Yaris mulai menurun seiring dengan bertambahnya usia.

Meski secara tim gagal, karena Persib nyaris terdegradasi, gelandang yang akrab disapa Ebol ini mampu menunjukkan kapasitasnya sebagai pemain berbakat. Buktinya, pelatih asal Inggris, Peter Withe memanggilnya untuk memperkuat timnas senior yang tampil di Turnamen Merdeka Games pada bulan Agustus 2006.

Peran sentral Eka di lini tengah Persib semakin dirasakan pelatih Arcan Iurie Anatolievici. Ketika ia harus mengikuti pelatnas jangka panjang, termasuk di Argentina selama sebulan, pelatih asal Moldova ini "menjerit". Saking paniknya, Iurie sampai melakukan blunder ketika mendatangkan pemain pengganti Eka.

Di era Jaya Hartono, peran Eka praktis tak tergantikan. Kini, ketika Jovo Cuckovic naik tahta, Eka pun tetap menjadi tumpuan. Kekhawatiran diucapkan Jovo, jika Eka terpaksa absen. "Kalau Eka tidak main karena membela tim nasional, cedera atau hukuman kartu, siapa yang menggantikannya?" kata Jovo.

0 komentar:

Posting Komentar